Kumpulan berita terkini dari dalam Negeri maupun luar negeri, Berita seputar Artis, Berita Unik, Berita Kesehatan, Berita seputar Teknologi, dan lain-lain

Terbukti Sudah Perkataan Ahok! Agama Dipakai Untuk Kendaraan Politik dan Membodohi rakyat


Dailytopic - Sejak munculnya Basuki Tjahaja Purnama(Ahok) menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta banyak sekali bermacam pihak yang ingin mencoba dengan beragam cara untuk menjegalnya. Mulai dari tuduhan korupsi, keberpihakannya kepada pengembang dan cara-cara radikal yang ditempuh Ahok dalam merombak birokrasi yang bobrok.

Semua itu nampak dapat dimentahkan, karena kinerja Ahok sendiri merupakan sebuah pembuktian bahwa dirinya adalah pemimpin yang jujur amanah, walaupun carca-cara tegas yang dipakainya mungkin tidak biasa bagi sebagian orang. kemudian dicarilah celah kesalahan untuk mejatuhkan Ahok. Dan cara yang paling ampuh yakni 'Agama' ditambah latar belakang Ahok dari etnis minoritas.

Jadi, Jangan melihat penolakan Ahok dari permasalahan saat di pulau seribu, di mana Ahok dianggap melecehkan kitab suci Al-Quran dengan kata-katanya tentang surat Al-Maidah ayat 51. Jauh sebelum itu, saat Ahok naik menggantikan Jokowi yang naik menjadi Presiden, Ahok sudah ditarget masalah keyakinan ditambah etnisnya. Situs Bandarq

Apa yang disitir Ahok dalam kunjungan kerjanya di Pulau Seribu yaitu sebuah penekanan bahwa jangan sampai mau dibohongi pakai ayat-ayat kitab suci. Ayat-ayat kitab suci dipergunakan untuk kepentingan politik alih-alih anjuran agama. Apa yang disampaikan Ahok sejalan dengan tesis dari Charles Kimball bahwa "Teks suci adalah unsur agama yang paling mudah untuk disalahgunakan" (Kimball, 2013:98). Dilansir dari Seword.com

Baca Juga : 

Apa adakah yang salah dari perkataan Ahok? Satu hal yang pasti, setelah kata-kata tersebut terucap oleh Ahok, maka berjilid-jilid demonstrasi dan unjuk rasa silih berganti melanda Ibukota, Bahkan sebagian besar peserta demontrans adalah orang-orang dari luar Ibukota. Sungguh perasaan beragama sudah sedemikian dipolitasi sehingga menimbulkan kegaduhan yang sangat luar biasa. Agen Bandarq

Kalimat yang dicuapkan Ahok kemudian dianggap telah menista agama Islam, dan membuatnya terseret ke meja hijau. KH.Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam wawancaranya dengan Majalah Tempo (edisi 15-22 Januari 2017) : "Unsur penistaannya di mana? jika tindak basuki dianggap penistaan agama, penganut islam akan banyak yang kena, sebab orang islam juga banyak sekali yang menistakan agama lain. mereka bisa dituntut balik dan bisa menimbulkan aksi saling tuntut. Jadi harus dijelaskan letak unsurpenistaannya dan jangan mau dibodohi. Saya curiga siapa yang pertama kali mencetuskan penistaan agama."

Belum cukup sampai disini. Politisasi agama semkain menjadi-jadi di Pilkada DKI. Beberapa masjid di Ibukota Jakarta memasang spanduk yang berisikan melarang untuk di sholatkan jenazah orang-orang yang mendukung Ahok. Menurut mereka, cara ini mereka lakukan sesuai dengan tuntunan Al-Quran. Benarkan demikian, hanya karena berbeda pilihan politik maka jenazah seseorang tidak boleh disholatkan? mereka yang menganggap tidak boleh mencholatkan para pendukung Ahok menilai bahwa para pendukung Ahok sudah termasuk ke dalam golongan kamu munafik.

Akan tetapi, hal ini cepat ditepis Oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia, Zainut Tauhid Sa'adi mengatakan, wajib bagi orang islam untuk menyalatkan Muslim yang meninggal mesi yang bersangkutan dituduh munafik atau kafir. "Kita tidak boleh menghukumi seseorang itu munafik ataupun kafir, yang berhak hanya Allah SWT," Kata Zainut di Jakarta, Hari Sabtu (25/2). (sumber : Republika.co.id). Lantas, apakah hak kita untuk menghukumi para pendukung Ahok dengan sebutan munafik? Tidakkah kita mendahului bahkan berlaku sabagai Tuhan? Bandarq Online

Baca Juga :
Mau Tahu Curhatan Dari Presiden Perusahaan Film Porno? Ternyata Kalau Mau Jadi Artis Bokep Tidak Gampang!

Fenomena tersebut benar-benar membahayakan. Identitas agama dan etnis dipakai untuk kepentingan dan kendaraan politik. Bahkan didalam Pilkada DKI ini penyelewengan dan menunggangi agama untuk stahwat politik jelas terlihat. Hanya cuma untuk menjegal Ahok kembali tidak berkuasa di DKI, maka cara-cara seperti ini ditempuh dengan terang-terangan.

Pertanyaan yang tertinggal, khususnya untuk partai-partai islam yang menolak Ahok lantaran Ahok mempunyai keyakinan yang berbeda dengan mayoritas masyarakat bangasa ini adalah, sudahkah kalian konsisten memerjuangkan agama atau justru memanfaatkan agama sebagai kendaraan politik semata? Bagaimana dengan 22 pilkada yang sudah deiselenggarakan di mana calon yang kalian usung justru adalah non muslim? Apakah surat Al-Maidah atay 51 hanya konsistenan kalian? Masyarakat tidak bisa dibodohi lagi, apa yang kalian pertontonkan adalah jelas-jelas pemanfaatan agama untuk urusan jangka pendek, yaitu kursi kekusasaan.

Previous
Next Post »
Comments
nama 0 Comments