Kumpulan berita terkini dari dalam Negeri maupun luar negeri, Berita seputar Artis, Berita Unik, Berita Kesehatan, Berita seputar Teknologi, dan lain-lain

Medsos Facebook Didemo, Pengamat: Tidak Masuk Di Akal Dan Butuh Kecerdasan Lebih Untuk Memahami Itu


Jakarta - Seorang pengamat politik yakni Ray Rangkuti megakui kebingungan dalam berkomentar tentang aksi unjuk rasa yang dilakukan oleh sejumlah ormas antara lain, Presidium Alumni 212 dan FPI (Front Pembela Islam) di kantor Facebook Indonesia, Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan, pada hari Jumat (12/1/2018).

Pasalnya, dikatakan oleh Ray, terdapat hal yang unik dari aksi ini, yakni mereka memprotes sebuah perusahaan cuman dikarenakan peruhasaan Facebook itu memblokir akun mereka.

"Yang paling unik itu perusahaan di demo sebab perusahaan enggak memasukkan mereka ke situ. Aku gak masuk akal di otak ku lagi, jadi aku engga punya analisa mengenai itu lagi. Membutuhkan kecerdasan lebih buat memahami logika itu," ucap Rey, hari Minggu (14/1/2018).

Sambung Rey, "Gimana ya, kalau politik seburuk-buruknya masih ada penjelasan nya. Tetapi kalau kasus kemarin itu sudah saya menjelaskan itu, enggak ada teorinya itu," jelas nya.

Hal menarik lainnya yang diungkapkan Rey Rangkuti, adalah sebelum digelarnya aksi di kantor Facebook, mereka sempat menyerukan untuk memboikot dan menggembar-gemborkan akan membuat media sosial untuk menandingi Facebook. Bandar poker online

"Sok-sok an anti, mengatakan boikot, sekarang justru malah minta facebook yang memasukkan mereka. (mereka) Kampanye pribumi, cintailah negeri, lho kalau gitu kenapa lagi demo?" ungkap Rey.

Sebelumnya, seorang Tokoh FPI yakni Habib Novel Chaidir Bamukmin, menuding perusahaan Facebook sudah berbuat zalim dan mendiskriminasi umat Islam, sebab sudah memblokir sejumlah akun milik umat Islam yang digunakan untuk dakwah dan kegiatan kemanudiaan.

"Karena akun itu akun dakwah dan akun aksi kemanudiaan terhadap bencana, yang masyarakat perlu yang kita memang terdepan membantu masyarakat, membantu ketika ada bencana alam dan musibah," jelas Habib Novel, hari Jumat (12/1/2018). Bandar poker terpercaya

Sementara di satu sisi, lanjut Humas Presidium Alumni 212 ini, sejumlah akun yang mengunggah tentang LGBT, komunis penistaan agama, dibiarkan tetap eksis di media sosial.

"Malah akun LGBT, komunis, zina, penistaan agama, didukung. Sementara setiap profil (Alumni) 212, FPI, MCA (Muslim Cyber Army), bendera tauhid, foto Habib Rizieg dan masih banyak lah, mereka langsung blokir," kata Novel.

Bukan hanya itu, dirinya menuding pemblokiran dilakukan dikarenakan perusahaan facebook juga berpihak pada penguasa yang sekit hati akibat kekalahan di Pilkada 2017, baik itu di Pilkada DKI maupun banten. Agen bandarq

"FB jangan berpihak (pada) penguasa didalam melakukan balas dendam politik karena kalah di Pilkada DKI dan Banten, dan sekarang benar-benar membabi buta memblokir akun dakwah dan akun aksi kemanudiaan karena takut bertarung sehat di Pilkada (serentak 2018) dan Pilpres (2019)," tegasnya.

Salam Topic!
Sumber: NetralNews

Baca Juga Artikel Berita Lainnya:
→ Mengenai HGB Reklamasi Anies-Sandi Siap Ganti Rugi, Yusril Mengingatkan APBD Adalah Uang Rakyat

→ Waspadalah!, Ada Pengendara Motor yang Mengincar Payudara Wanita Yang Sedang Berjalan Sendirian



Website Agen Kartu Online Aman & Terpercaya Saat Ini

Promo GoldenQQ Saat Ini :
1. Bonus Rollingan 0.3% up to 0,5&
2. Bonus Referral 15% 
3. Min Depo & WD Sangat Terjangkau Rp. 20,000

7 Games Dalam 1 User ID :
Bandar Poker | Poker | Adu-Q | Bandar-Q | Domino99 | Capsa Susun | Sakong

Disupport Oleh :
1. LiveChat 24 Jam Online
2.Customer Service Yang Ramah
3. Support 5 Bank Ternama dan Terbesar Di Indonesia
4. Proses Depo & WD Cepat
5. Setiap Hari Tersedia Ribuan Meja & Member / Player Yang Bermain
6. 100% NO ROBOT / ADMIN

Untuk Info Bonus Lebih Lengkap Silahkan Hubungi Customer Service Kami Di :
LiveChat : www.GOLDENQQ.org
BBM : 2BE6505E
HP : +85516789420
WECHAT : GOLDENQQ1
SKYPE : GOLDENQQ1
FANSPAGE : GOLDENQQ1
YM : GOLDENQQ1@YAHOO.COM

Previous
Next Post »
Comments
nama 0 Comments